PENGELOLAAN KEUANGAN AGAR TABUNGAN SELALU ADA ISINYA

?????????

Baru tanggal belasan kok uangku di tabungan sudah tipis ya..? “

“Maaf, saya gak ikutan pergi, dana di tabunganku sudah gak ada…”

“Belanja segitu saja bawa duit 300 ribu kok ya gak ada sisanya.. “

Kalimat-kalimat di atas tentu sangat familiar di telinga karena sering sekali terdengar dilontarkan oleh teman-teman kita atau bahkan oleh pasangan kita sendiri?

Tentunya kita sendiri tidak ingin mengalami kondisi keuangan yang seperti itu. Ada cara cerdas dalam mengelola keuangan agar cash flow atau aliran uang kita tidak pernah menjadi negative atau besar pasak daripada tiang alias pengeluaran lebih besar dari pendapatan.

Menabung dulu, baru belanja, Jangan terbalik!

Inilah kebiasaan yang sering kita temui di antara teman-teman kita, mereka tidak memiliki tabungan khusus. Ya tentu saja mereka punya rekening tabungan di bank, gajian semua masuk di rekening tersebut, tabungan pun juga berada di rekening yang sama.

Dan yang terjadi adalah pola menabungnya pun menjadi salah. Begitu gajian, mereka pergi bersenang-senang dan belanja-belanja…. kalau ada sejumlah sisa dari uang gajian ya sejumlah itulah yang masuk kedalam tabungan.

Tepatnya masuk ke rekening bank, bukan ke rekening tabungan. Bulan demi bulan berlalu, tahun demi tahun berlalu, ketika uang dalam rekening jumlahnya agak banyak mereka mulai belanja barang-barang yang lebih mewah dan lebih berkelas sehingga jumlah uang di rekening “tabungan” itupun tidak pernah bertambah menjadi besar.

Malah yang sering hanya sisa sedikit saja. Pola menabung ini harus kita rubah, jangan ditiru. Kita harus punya account rekening bank yang lain yang benar-benar berfungsi sebagai wadah penampung uang yang kita kumpulkan. Ambil minimal 20% dari gaji anda untuk disimpan di tabungan ini dan segera masukkan begitu terima gaji. Bukan di akhir bulan setelah selesai belanja-belanja.

Jangan terlalu sering pergi

Beban pekerjaan yang berat di kantor membuat kita stress dan nasihat yang sering terdengar adalah bersantailah, dan yang kita sering lakukan adalah pergi keluar entah untuk jalan-jalan lah, untuk cuci mata lah atau yang lainnya. Bila terlalu sering maka malah membuat keuangan kita jadi membengkak. Kita harus bijak dalam memutuskan kapan waktunya berpergian, menghilangkan stress tidak harus selalu pergi ke luar yang menghabiskan banyak biaya.

Pangkas kebutuhan yang tidak perlu

Kita harus bisa membedakan mana kebutuhan yang primer dan kebutuhan yang sekunder. Agar keuangan terkelola dengan baik, kita harus berani tegas terhadap diri sendiri dalam memangkas kebutuhan yang tidak perlu.

Misalnya pada saat akan membeli pesawat televisi terkadang kita akan tergoda melihat betapa bagusnya kualitas gambar TV LED terbaru bahkan sampai membeli pesawat TV yang ukurannya paling besar.

Kita bahkan lupa kalau ukuran kamar kita masih imut yang tidak cocok dikasih TV sebesar itu. Ya, memang kebutuhan akan hiburan di jaman sekarang ini sudah merupakan kebutuhan primer namun TV LED ukuran big size masih termasuk barang mewah yang akan membuat keuangan kita terganggu. Lebih baik selisih uangnya kita masukkan tabungan.

Berfikir sebelum membeli

Janganlah kita membeli sesuatu tanpa ada perencanaan. Asal pergi ke Mall ada barang bagus langsung keluarkan dompet dan beli.

Kalaupun tertarik dengan barang itu ada baiknya kita beri masa cooling down sejenak untuk memikirkan dan mempertimbangkan apa benar barang tersebut harus dibeli saat itu juga? Apakah memang tidak ada barang di rumah yang manfaat dan kegunaannya sama ? Kita harus belajar mengendalikan diri dari nafsu belanja yang akan merugikan keuangan kita apabila terlalu sering belanja tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Berinvestasi

Salah satu kiat sukses dari Taipan besar Hongkong Li Kashing selain menabung 20% dari penghasilan adalah menggunakan 20% lagi dari penghasilan untuk berinvestasi.

Sekecil apapun penghasilan kita akan selalu ada instrument investasi yang bisa kita pilih. Dengan demikian uang kita tidak akan diam saja tapi bisa menjadi sumber penghasilan yang akan menjamin isi tabungan kita tidak menjadi tipis di akhir bulan. Macam-macam pilihan instrument investasi yang menguntungkan buat kita akan kita bagikan di artikel-artikel berikutnya.

5 ALASAN MENGAPA KITA TERPAKSA HARUS MENABUNG

Alasan Mengapa Anda Harus Dipaksa Menabung

Kita semua tahu bahwa menabung itu baik karena sejak kecil kita diajarkan baik di rumah maupun di sekolah untuk menabung. Ada yang masih ingat bagaimana perasaan saat memecah celengan dengan palu dan menemukan banyak uang logam dan uang kertas?

Wow… it is priceless…! Sulit dilukiskan dengan kata-kata. Perasaan senang karena sudah memiliki sejumlah uang yang bisa dipakai untuk membeli suatu barang yang diinginkan setelah menabung beberapa bulan atau beberapa tahun di celengan ayam itulah alasan utama mengapa kita tetap harus menabung di saat kita sudah menginjak usia dewasa.

Justru tantangan kehidupan semakin berat pada saat kita sudah dewasa dan harus bertanggungjawab tidak hanya terhadap diri sendiri tetapi untuk istri dan anak-anak serta orang tua yang sudah makin senja usianya.

Menabung bukan hanya sekedar menyisihkan uang kalau ada dan kalau sempat tetapi sudah merupakan kewajiban yang apabila dilakukan secara disiplin dan teratur akan menjamin kenyamanan hidup kita.

Berikut adalah alasan mengapa kita harus menabung:

1. Dana Darurat

Setiap saat musibah bisa menimpa kita baik berupa sakit, kecelakaan, bencana alam, bisnis yang menurun atau bahkan kehilangan pekerjaan. Para perencana keuangan atau financial planner selalu menyarankan anda harus memiliki EMERGENCY FUND atau DANA DARURAT sebesar paling sedikit 6 kali penghasilan bulanan anda. Dana ini harus selalu tersedia di rekening tabungan yang liquid yang bisa diambil setiap saat dengan mudah.

Mengapa harus 6 bulan ? Apabila kita usaha sendiri, saat kita sakit atau kecelakaan mungkin tidak ada pemasukan untuk beberapa bulan. Atau apabila kita kehilangan pekerjaan mungkin perlu waktu beberapa bulan hingga kita bisa memperoleh pekerjaan baru.

2. Dana Untuk Pengeluaran Tahunan

Banyak pengeluaran tahunan yang mau tidak mau atau suka tidak suka tetap harus kita hadapi, misalnya:  STNK dan pajak mobil atau motor, PBB untuk rumah/tanah, service AC, service mobil/motor, perbaikan bagian dari rumah (atap bocor/pintu rusak/peralatan dapur rusak dsb), mudik lebaran keluarga setahun sekali, liburan keluarga tahunan, daftar ulang sekolah anak, dsb dsb.

Dana ini wajib disediakan, dan tentu saja akan sangat menyenangkan bila kita sudah menyiapkannya mulai dari setahun sebelumnya, jadi jangan kita terkaget-kaget tiap kali mengetahui wah sudah jatuh tempo harus bayar PBB, waduh STNK mobil sudah habis, sudah harus beli tiket pesawat buat semua anggota keluarga karena waktunya pergi mudik Lebaran, atau sudah waktunya liburan ke Bali dsb dsb.

Sebagian besar memang bisa kita bisa bayar menggunakan kartu kredit, tetapi akan menjadi masalah bilamana kartu kredit dipergunakan untuk membayar sementara kita tidak punya dana untuk membayar tagihan secara penuh. Yang ada kita akan terjerat oleh bunga kartu kredit yang sangat besar.

3. Dana Untuk Pengeluaran Besar

Beberapa contoh pengeluaran besar yang pasti adalah biaya masuk sekolah anak atau biaya masuk ke perguruan tinggi. Bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta biaya masuk perguruan tinggi yang bagus saat ini. Kecuali anak-anak kita memiliki karunia otak yang sangat cerdas sehingga bisa masuk tanpa test dan memperoleh bea siswa sehingga biaya menjadi relative jauh lebih kecil.

Selain itu pengeluaran besar yang lain adalah apabila kita ingin membeli mobil baru atau mengganti mobil lama dengan mobil baru misalnya dalam 2 atau 3 tahun ke depan. Atau apabila kita sudah bosan jadi kontraktor dan ingin membeli rumah sendiri. Atau kita ingin merencanakan liburan special bersama keluarga setiap 5 tahun sekali ke Korea atau Eropa misalnya.

Renovasi rumah adalah pengeluaran besar yang harus disiapkan dananya sejak dini, jangan lupa disediakan dana ekstra lagi karena biasanya pengeluaran untuk renovasi rumah ini selalu akan membengkak jauh lebih besar dari budget pada saat pelaksanaan karena selalu dirasa kurang ini dan kurang itu.

Bagaimana dengan pergi ke tanah suci untuk Umroh atau naik Haji ? Pengeluaran ini juga cukup besar dan harus dipersiapkan jauh-jauh hari.

4. Pensiun Nyaman

Siapa yang ingin di usia 70 tahun masih tetap harus bekerja? Bahkan kalaupun terpaksa ingin bekerja karena tuntutan ekonomi sepertinya tidak ada perusahaan yang mau menggaji orang yang sudah lemah secara fisik. Bahkan kebanyakan usia pensiuan yang normal adalah 55 tahun. Nah di saat kita sudah tidak memiliki penghasilan karena memasuki usia pensiun apakah standard hidup atau life style kita juga harus diturunkan secara drastis? Dengan program menabung yang cerdas niscaya anda bisa memiliki dana pensiun yang cukup untuk tetap bisa menikmati hidup dengan nyaman.

5. Ingin memiliki bisnis sendiri

Banyak di antara kita yang ingin memiliki bisnis atau usaha sendiri tetapi terkendala dengan ketiadaan modal. Masalah klasik yang sebenarnya bisa diatasi apabila kita disiplin menyisihkan sebagian dari penghasilan kita untuk dikumpulkan menjadi modal usaha. Kalau hanya mengharapkan sisa-sisa uang belanja bulanan, akan sangat sulit bisa mengumpulkan uang untuk modal awal usaha.